22 April Hari Bumi
Berhenti bohong.
Kita tidak sedang menjaga bumi—
kita sedang mempercepat kehancurannya, sambil sibuk cari pembenaran.
Bali penuh sampah.
Pantai kotor. Sungai Butek. Jalanan sesak.Semua orang lihat—tapi semua orang juga memilih pura-pura tidak terjadi apa-apa.
Pemerintah bicara rencana.
Investor bicara angka.
Oligarki bicara kuasa.
Rakyat? Disuruh sabar.
Ini bukan krisis lingkungan lagi—
ini krisis keberanian.
Kita takut kehilangan kenyamanan,
takut kehilangan relasi,
takut bicara jujur.
Akhirnya? Kita kompromi.
Bahwa sampah, macet, kriminal menjadi hal normal.
Bali hari ini darurat—
darurat sampah, darurat air, darurat arah.
Sungai penuh plastik.
Pantai dibersihkan pagi—kotor lagi sore.
TPA overload, tapi produksi sampah terus dibiarkan.
Besok? Kita hanya akan mewariskan pulau yang lelah, kotor, dan rusak—
untuk generasi yang tidak pernah diberi pilihan.
Jangan tunggu kebijakan.
Jangan tunggu sistem berubah.
Karena kalau kita terus menunggu,
yang berubah hanya satu:
kondisi akan semakin parah.
Hari Bumi bukan perayaan.
Ini peringatan terakhir.
Kalau hari ini masih diam—
maka kita bukan hanya bagian dari masalah,
kita adalah alasan kenapa masalah itu tidak pernah selesai.
Author: Tira Triyana
A Balinese woman who is active in her daily life as a consultant & activist, also active in the PDI Perjuangan and leads several youth organizations, Women's Organizations and Children's Observers including Observers of the Disabled. Perempuan Bali yang kesehariannya adalah sebagai aktivis Pergerakan dan juga aktif di salah satu Partai Politik yaitu PDI Perjuangan dan memimpin beberapa organisasi kepemudaan, Organisasi Perempuan dan Pemerhati Anak-anak termasuk Pemerhati kaum Difabel.





